Etiologi Diabetes Melitus

224 views

Etiologi diabetes melitus secara umum dimulai adanya penyakit kronis yang ditandai oleh defisiensi insulin baik secara relatif atau absolut, menghasilkan suatu kondisi yang disebut intoleransi glukosa. Itu terjadi pada kurang 150 ribu kasus per tahun di Indonesia.

Menurut WHO, etiologi diabetes melitus terjadi akibat kekurangan atau penurunan produksi insulin oleh pankreas, atau oleh ketidakefektifan insulin yang dihasilkan sel beta. Kekurangan atau penurunan insulin menghasilkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah, yang pada gilirannya merusak banyak sistem tubuh, khususnya pembuluh darah dan saraf.

Pada tubuh penderita diabetes, mereka memiliki tingkat TGT (Toleransi glukosa terganggu) dan GPT (Glukosa Puasa Terganggu), yang mengacu pada kadar konsentrasi glukosa darah abnormal, mereka akan memiliki diagnostik diabetes.

Seseorang memiliki TGT dan / atau GPT abnormal (di atas normal), secara substansial mereka berisiko lebih tinggi terkena diabetes dan penyakit kardiovaskular; daripada orang-orang yang memiliki toleransi glukosa normal.

Etiologi klasik

Gejala diabetes klasik muncul dari sebuah proses metabolisme glukosa abnormal. Kurangnya aktivitas dan sensitifitas insulin menyebabkan kegagalan transfer glukosa dari plasma ke dalam sel, sehingga glukosa meluap dalam darah. Situasi ini seperti “kelaparan di saat banyak makanan”.

Sel-sel tubuh tidak bisa makan glukosa seolah-olah dia dalam keadaan puasa, baik dengan stimulasi glucogenolysis, glukoneogenesis dan lipolisis sehingga menghasilkan keton.

Glukosa dari makanan tidak dimetabolisme dengan normal oleh tubuh menyebabkan akumulasi glukosa meningkat dalam darah, disebut hiperglikemia. Akumulasi glukosa akhirnya diekskresikan dalam urin, disebut glikosuria (air kencing mengandung gula). Kondisi glikosuria menyebabkan diuresis osmotik, menyebabkan peningkatan produksi urin, disebut poliuria.

Stimulasi pemecahan protein menghasilkan asam amino untuk proses glukoneogenesis menghasilkan pengkeroposan otot dan penurunan berat badan. Gejala klasik ini hanya terjadi pada pasien dengan defisiensi insulin berat, paling sering pada diabetes tipe 1. Banyak pasien dengan diabetes tipe 2 tidak memiliki gejala-gejala ini namun hadir bersamaan komplikasi diabetes.

Baca: diabetes dan kurus badan.

Etiologi diabetes tipe 1

Umumnya, ada dua jenis diabetes: Diabetes tipe 1 (diabetes tergantung insulin) dan Diabetes Tipe 2 (diabetes tidak tergantung insulin).

Diabetes tipe 1 (diabetes melitus tergantung insulin) disebabkan kerusakan sel Beta pankreas. Penyebab kerusakan sel B pada diabetes tipe I tidak diketahui. Beberapa kasus diabetes tipe 1 akibat infeksi virus. Virus penyebab diabetes tipe 1 adalah virus coxsakie atau virus mumps.

Autoimunitas diyakini sebagai mekanisme utama yang terlibat. Autoantibodi sel islet hadir dalam serum 90% dari kasus DM tipe 1 didiagnosis awal. Antibodi tersebut menyerang beberapa komponen sel, termasuk sitoplasma dan membran antigen atau terhadap insulin itu sendiri (IgG dan IgE antibodi). Aktifitas Limfosit T juga menyerang sel Beta, ini telah ditunjukkan pada beberapa pasien diabet tipe 1.

Level insulin plasma juga sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali pada pasien diabetes tipe 1, dan resiko ketoasidosis sering terjadi jika pasien tidak menerima insulin eksogen (suntikan insulin).

Diabetes tipe 1 terjadi paling sering pada remaja, dengan insiden tertinggi di seluruh dunia antara pemuda usia 10 hingga 14 tahun, tetapi kadang-kadang terjadi pada orang dewasa non obesitas ditandai hiperglikemia muncul pertama kali.

Etiologi diabetes melitus tipe 2

Etiologi diabetes tipe 2 (diabetes tidak tergantung insulin) kurang dipahami dengan jelas. Ada dua faktor telah diidentifikasi sebagai dasar etiologi:

a) Gangguan sekresi insulin

Insulin basal (insulin alami yang dikeluarkan pankreas) biasanya normal, tetapi pelepasan insulin secara cepat dan jumlah banyak setelah makan menjadi pokok permasalahan karena menyebabkan kegagalan metabolisme karbohidrat secara normal.

Pada beberapa penderita diabetes tipe 2, beberapa tingkat sekresi insulin bisa dikendalikan tubuh, sehingga gangguan metabolisme glukosa bisa terbatasi dan ketoasidosis jarang terjadi.

Tetapi Pada beberapa pasien-pasien lain, sekresi insulin butuh rangsangan oleh obat-obatan seperti sulfonilurea. Oleh karena itu insulin eksogen tidak begitu penting dalam pengobatan diabetes tipe 2, sehingga ada istilah diabetes tidak tergantung insuin.

Beberapa data menunjukkan adanya pola cacat sekresi insulin diwariskan, kondisi ini bertanggung jawab untuk kecenderungan keluarga diabetes tipe 2 turun-temurun. Faktor genetik sangat kuat pada diabetes tipe 2, dengan riwayat diabetes hadir di sekitar 50% dari keluarga tingkat pertama.

b) Resistensi insulin

Suatu tindak defek pada respon jaringan terhadap insulin diyakini memainkan peran utama dalam etiologi DM tipe 2. Fenomena ini disebut resistensi insulin dan disebabkan oleh reseptor insulin yang rusak pada sel target. Resistensi insulin biasanya dihubungkan dengan obesitas dan kehamilan.

Pada individu normal yang mengalami obesitas atau hamil, sel Beta mensekresikan jumlah besar insulin untuk mengkompensasi. Pasien yang memiliki kerentanan genetik atas diabetes, tubuh mereka tidak dapat mengkompensasi karena cacat bawaan pankreas dalam sekresi insulin.

Dengan demikian, diabetes tipe 2 sering dipicu oleh obesitas dan kehamilan. Pada beberapa pasien dengan resistensi insulin yang ekstrim, antibodi menyerang reseptor telah ditunjukkan oleh plasma. Antibodi ini sebagian besar dari kelas IgG dan aktif melawan reseptor insulin, menyebabkan penurunan jumlah reseptor insulin dan kerusakan ikatan insulin ke reseptor.

Orang-orang barat menyebut diabetes tipe 2 sebagai Diabetes Diabetogenic Environments. Artinya, penyakit diabetes terjadi akibat lingkungan diabetogenik, sebuah lingkungan atau tempat atau gaya hidup di mana orang memiliki akses mudah ke makanan tinggi lemak, tinggi kalori dan lain-lain.

Artikel Diabetes Melitus Lainnya

Tags: #Gejala Diabetes #Gejala Diabetes Tipe 1 #Gejala Diabetes Tipe 2