Komplikasi Diabetes Epilepsi

375 views

Komplikasi Diabetes Epilepsi. Apakah diabetes dapat menyebabkan epilepsi? Hubungan diabetes tipe 1 dengan epilepsi bisa terjadi dikaitkan dengan hipoglikemik atau hipergliemik parah, terutama untuk diabetes tipe 1.

Orang yang memiliki diabetes tipe 1 hampir tiga kali lebih mungkin untuk mengembangkan kejang-kejang akibat epilepsi dibandingkan diabetes tipe 2 ataupun orang tanpa diabetes.

Bahkan, menurut beberapa penelitian, anak-anak dengan diabetes tipe 1 di bawah usia 6 tahun, tampaknya enam kali lebih mungkin untuk mengembangkan epilepsi.

Dan, anak-anak yang sering mengalami hipogliemik parah yang sering di rawat di Rumah sakit lebih mengembangkan 16,5 kali untuk epilepsi.

Kelainan metabolik seperti hiperglikemia dan hipoglikemia bisa merusak pada sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan kejang-kejang. Kejang-kejang ini bisa menjadi hasil dari komplikasi neuropati, autoimunitas atau gangguan metabolik.

Epilepsi dapat menjadi fitur dari pasien diabetes. Antibodi patogen tertentu dapat bereaksi dengan antigen neuronal. Gangguan metabolik ekstrem seperti hipoglikemia atau hiperglikemia parah pada diabetes bisa berkontribusi untuk mengembangkan epilepsi.

Apa itu epilepsi?

Epilepsi adalah gangguan otak yang menyebabkan kejang spontan dan berulang. Kejang berulang ini disebabkan oleh muatan listrik yang tidak terkontrol olah sel-sel saraf di korteks serebral. Sel-sel saraf ini adalah bagian dari otak yang mengontrol fungsi mental, gerakan umum, fungsi organ-organ internal di dalam rongga perut, dan persepsi atau reaksi perilaku.

Apa penyebab epilepsi?

Sering kali, penyebab epilepsi belum diketahui secara pasti. Beberapa ilmuwan telah menyimpulkan bahwa epilepsi disebabkan karena trauma otak, infeksi intrakranial, tumor otak, tumor pankreas (penyebab hiperinsulinemia yang berdampak hipoglikemia parah), gangguan pembuluh darah, keracunan, atau ketidakseimbangan kimia.

Kejang epilepsi dapat terjadi pada malam hari (kejang nokturnal), atau setelah mendapat stimulasi fisik, seperti lampu berkedip-kedip atau suara keras yang mendengung.

Gangguan emosi dapat memicu kejang-kejang, emosi adalah dampak dari hipoglikemia atau hiperglikemia. Orang cenderung untuk mengalami kejang-kejang lebih mungkin terjadi jika dipicu oleh fluktuasi kadar glukosa darah.

Orang dengan hiperglikemia (gula darah tinggi) cenderung memiliki kejang fokal atau lokal, sedangkan mereka yang hipoglikemik (gula darah rendah) cenderung memiliki kejang tonik kolon, juga disebut kejang hipoglikemik.

Bagaimana diabetes tipe 1  menyebabkan epilepsi?

Penyakit diabetes melitus tipe 1 adalah suatu kondisi autoimun yang menyebabkan kerusakan sel beta pankreas sehingga meniadakan produksi insulin.

Insulin adalah hormon yang diperlukan untuk mengolah glukosa menjadi energi. Untuk mengganti insulin, orang dengan diabetes tipe 1 harus mengambil beberapa suntikan insulin setiap hari atau menggunakan pompa insulin.

Namun, untuk mencapai dosis insulin yang tepat, ini sangat sulit. Jika terlalu sedikit insulin, maka gula darah menjadi tinggi (hiperglikemik).

Seiring waktu, gula darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan serius pada pembuluh darah, terutama di mata, ginjal dan jantung.

Jika terlalu banyak insulin yang disuntikkan juga menimbulkan bahaya, menyebabkan kadar gula darah rendah (hipoglikemik), jika tidak ditangani dengan segera akan dapat menyebabkan ketidaksadaran dan bahkan kematian.

Glukosa memainkan peran penting dalam fungsi otak karena merupakan sumber utama pembangkit energi metabolik.

Bagi penderita diabetes, mengontrol kadar glukosa adalah kunci untuk meminimalkan komplikasi sistem saraf. Hiperglikemia (gula darah tinggi) atau hipoglikemia (gula darah rendah) bisa menyebabkan kelainan pada elektro encephalogram (tes untuk mendeteksi masalah kelistrikan di otak) pada anak dengan diabetes.

Lalu, bagaimana diabetes tipe 1 dikaitkan dengan munculnya epilepsi? Dari berbagai penelitian menduga bahwa berbagai faktor mungkin menjadi agen, termasuk kelainan kekebalan tubuh, lesi otak, faktor genetik dan kelainan metabolik (hipo dan hiperglikemik)

Dr Gerald Bernstein, seorang endokrinologi dan koordinator Program Diabetes mengatakan bahwa ketika orang-orang dengan diabetes tidak mengontrol kadar gula darah mereka, pembuluh darah kecil di otak dapat dipengaruhi.

Temuan ini secara konsisten telah menunjukkan adanya hubungan antara diabetes tipe 1 dan epilepsi. Para peneliti melaporkan hasil mereka dalam sebuah artikel yang diterbitkan secara online 31 Maret 2016 di Diabetologia.

Dr. Kenneth Mandl, MD, MPH, dari Harvard Medical School dan Rumah Sakit Anak Boston, Massachusetts, mengatakan, seperti dilaporkan sebelumnya, telah dilakukan analisis serupa bahwa pasien penyakit autoimun memiliki peningkatan risiko epilepsi dan diabetes tipe 1 memiliki 5,2 kali lipat untuk menyebabkan risiko epilepsi.

Penanganan diabetes dan epilepsi

Anda mungkin akan terkejut mendengarnya, tetapi menurut beberapa penelitian terbaru, diabetes dan epilepsi memiliki lebih banyak kesamaan dari yang kita duga.

Kesamaan tersebut bermula dari fluktuasi gula darah. Orang dengan hiperglikemia cenderung memiliki kejang fokal atau lokal. Dan orang-orang yang hipoglikemik, cenderung memiliki kejang tonik-klonik.

Namun kita semua tahu bahwa diet memainkan peran penting dalam mengendalikan diabetes dan epilepsi. Yang paling menarik, bahwa obat diabetes juga bisa menjadi cara yang efektif dan aman untuk mengobati epilepsi.

Menurut laporan, M3tform1n (jenis Gluc0ph4ge) bisa sangat berguna dalam mengobati pasien epilepsi yang resisten terhadap obat epilepsi.

Gluc0ph4ge membantu menurunkan kadar gula darah dengan meningkatkan cara tubuh dalam menangani insulin. Gluc0ph4ge mampu mengaktifkan molekul yang mengatur energi, dan menekan sel-sel saraf untuk menghambat transfer gula menjadi energi berlebih.

Artikel Diabetes Melitus Lainnya