Diabetes Sindrom Ovarium Polikistik

363 views

Diabetes Kista Ovarium. Diabetes tipe 2 juga bisa akibat penyakit Kista Rahim. Diabetes sindrom ovarium polikistik. Poly Cystic Ovarian Syndrome – PCOS. Hubungan penyakit kista dengan diabetes Tipe 2?

PCOS dan DM Tipe 2 adalah penyakit kombinasi dari dua gangguan hormonal, kedua kondisi tersebut menyebabkan wanita dengan diabetes semakin terpuruk dalam kesengsaraan hidup.

Diabetes melitus adalah suatu penyakit akibat gangguan hormonal dan sindrom, sedangkan PCOS adalah sama.

Kedua penyakit menyebabkan penyakit diabetes kista ovarium atau diabetes sindrom ovarium polikistik. Bagaimana kedua penyakit itu saling berhubungan?

Hubungan antara kista ovarium dan diabetes

Jika Anda memiliki semua gejala yang melibatkan PCOS dan diabetes, berarti juga memiliki risiko dari kombinasi penyakit. Jika Anda memiliki beberapa gejala dari salah satunya, Anda memiliki sindrom.

Apabila Anda hanya memiliki dua dari tiga ciri-ciri untuk PCOS ( sindrom ovarium polikistik – Polycystic Ovarian Syndrome ), berarti Anda memiliki gangguan hormon.

Dan, bila Anda memiliki PCOS, mungkin juga akan berisiko pre-diabetes. Ketika PCOS dan diabetes melitus bergabung, maka disebut diabetes sindrom ovarium polikistik.

Intinya, diabetes melitus menyebabkan kista ovarium, dan wanita yang menderita kista ovarium polikistik akan berdampak pada diabetes melitus tipe 2. Atau bisa dikatakan : diabetes mellitus dapat terjadi karena syndrom polikistik.

Gejala diabetes sindrom ovarium polikistik

Wanita dengan PCOS dan diabetes sering mengalami PMS mengerikan (premenstrual syndrome) dengan gejala seperti nyeri punggung, perubahan suasana hati, depresi dan gangguan tidur.

Ada pertumbuhan rambut yang tidak biasa di tubuh dan muncul jerawat. KAdang muncul kebotakan kepala di kepala Anda.

Ciri-ciri PCOS termasuk haid tidak teratur, obesitas, infertilitas, jerawat dan pertumbuhan rambut pada wajah, dada, dan punggung (hirsutisme) dan kista ovarium.

Polikistik memberi arti “banyak kista,” pada ovarium. Wanita yang memiliki PCOS dan diabetes melitus biasanya penuh kista, meskipun mereka tak menyadari munculnya gejala.

Kista ovarium dapat menyebabkan sakit fisik, tetapi jika terjadi demam mendadak diiringi rasa nyeri, segera pergi ke dokter kandungan.

Kista mungkin telah pecah, atau ovarium menjadi bengkok. Ini adalah situasi yang mengancam jiwa. Tapi kebanyakan wanita tidak merasakan gejala, dan mereka tak menyadari bahwa pada tubuhnya muncul penyakit diabetes sindrom ovarium polikistik.

Penyebab diabetes sindrom ovarium polikistik

1. KEtidakseimbangan hormon.

Sindrom ovarium polikistik adalah gangguan metabolisme yang mempengaruhi sistem reproduksi wanita. Wanita yang memiliki PCOS, berarti dia memiliki ketidakseimbangan hormon.

Ovarium dan kelenjar adrenal menghasilkan banyak hormon androgen, khususnya testerone. Namun, pada wanita berisiko sering kurang estrogen dan progesteron dari biasanya. Ketidakseimbangan menyebabkan PCOS

2. Obesitas dan resistensi insulin

Kista berkembang dalam folikel di mana ovarium memproduksi sel telur. Beberapa kista dapat tumbuh sekaligus dan akhirnya dapat merusak folikel.

Inilah adalah penyebab infertilitas pada wanita yang berisiko PCOS dan diabetes melitus.

Kebanyakan orang mengatakan bahwa PCOS berkaitan erat dengan faktor lingkungan seperti diet dan olahraga. Akan tetapi, apakah obesitas merupakan menyebabkan PCOS. Hal ini masih diambang keraguan.

Obesitas meningkatkan resistensi insulin yang sering terjadi dengan PCOS. Beberapa wanita tampaknya mampu menghilangkan gejala resistensi insulin dengan penurunan berat badan, olahraga teratur dan diet rendah lemak dan karbohidrat.

3. Gangguan autoimun

Gangguan autoimun adalah sumber peradangan, walaupun saat ini tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan autoimunitas mengarah ke diabetes sindrom ovarium polikistik.

Beberapa faktor seperti hiperinsulinemia, peradangan dan sel darah putih mengganggu organ normal. Reaksi autoimun ini meningkatkan resistensi insulin sebagai penyebab sindrom ovarium polikistik.

4. Keturunan

Ada penanda genetik khusus untuk PCOS, dan orang tua akan mewariskan PCOS untuk anak perempuan.

Jika ada riwayat keluarga dengan penyakit tiroid dan resistensi insulin, kemungkinan PCOS diwariskan menjadi lebih tinggi.

Dan jika Anda memiliki PCOS, saudara kembar Anda mungkin memiliki kesempatan berisiko juga.

5. Gangguan tiroid

Penderita PCOS dan diabetes melitus cenderung memiliki masalah tiroid. Itu tidak mengherankan karena tiroid adalah regulator hormon.

Tiroiditisme adalah empat kali lebih mungkin untuk muncul pada wanita dengan PCOS. Tiroiditisme merupakan gangguan autoimun di mana sel-sel darah putih menyerang tiroid dan melatarbelakangi munculnya diabetes sindrom ovarium polikistik.

Pemeriksaan fisik

Mendiagnosis diabetes sindrom ovarium polikistik melibatkan beberapa langkah.

– Pemeriksaan siklus menstruasi

Dokter akan mengambil riwayat kesehatan secara rinci tentang siklus menstruasi dan riwayat reproduksi, termasuk informasi tentang KB yang Anda gunakan pada setiap kehamilan Anda miliki.

– Anda akan menerima pemeriksaan panggul dan fisik lain.

Selama pemeriksaan panggul, dokter memeriksa pembengkakan kista ovarium. Jika kista ditemukan, dokter mungkin melakukan USG, atau skrining untuk memeriksa kista dan endometrium (lapisan rahim).

– Tes darah

Jika dokter mencurigai Anda memiliki PCOS, maka akan merekomendasikan tes darah untuk mengukur kadar hormon seperti testosteron.

– Tes kadar glukosa

Dokter Anda dapat memeriksa insulin dan kadar glukosa, untuk mencari diabetes atau resistensi insulin. Banyak wanita berpredikat PCOS dan diabetes melitus memiliki kondisi ini.

– Uji kolesterol

Dokter juga dapat memeriksa kadar kolesterol dan trigliserida karena keduanya sering tidak normal pada wanita PCOS. Setelah dokter membuat diagnosis,

Anda akan bekerja sama untuk memutuskan cara terbaik untuk mengobati serta mengelola PCOS dan diabetes melitus Anda.

Penanganan dan pengobatan

Belum ditemukan obat khusus untuk menangani kasus PCOS. Untuk penanganan dan pengobatan diabetes sindrom ovarium polikistik, mungkin diperlukan perlakuan sebagai berikut

1. Diet diabetes

Anda akan diminta untuk mengubah beberapa hal. Ada diet untuk PCOS seperti diet diabetes, karena menghindari karbohidrat glisemik tinggi. Hal ini akan menurunkan efek hiperinsulinemia.

2. Kontrol berat badan

Anda juga perlu untuk mengontrol berat badan dan mengelola stres, sama seperti mengelola diabetes melitus tipe 2. Aktifitas fisik akan membantu mengelola berat badan, stres, dan masalah resistensi insulin.

3. Diet antioksidan

Diet antioksidan sepertinya layak untuk diterapkan, perbanyak sayuran dan buah non-tepung.

4. Bergabung dalam forum.

Jika Anda memiliki PCOS dan diabetes melitus tipe 2, mengikuti forum-forum tentang hal terkait akan membantu untuk mengetahui ide-ide latihan, resep dan cerita pribadi yang akan mendorong Anda untuk lebih semangat dalam hidup.

5. Hindari depresi.

Depresi hanya meningkatkan risiko penyakit dan membuang waktu.

6. Tetap semangat.

Seorang wanita menghadapi PCOS memiliki kesibukan untuk mengelola dalam keseharian, dan jika Anda memiliki tipe 2 diabetes, tantangan mungkin menjadi luar biasa.

Jika Anda memiliki diabetes sindrom ovarium polikistik, mungkin membantu untuk mengingat ini. Satu-satunya faktor kegagalan adalah orang-orang yang berhenti atau tak mau berusaha.

7. Perbanyak minum air putih.

Ini akan menurunkan kadar gula darah bagi wanita yang mempunyai PCOS dan diabetes melitus. Selain itu, air putih juga mampu membuang racun pada tubuh ( detoksifikasi ), meringankan kerja ginjal, meningkatkan sirkulasi darah, dll.

Intinya, wanita dengan sindrom ovarium polikistik memiliki kepekaan terhadap karbohidrat, menyebabkan kenaikan berat badan dan resistensi insulin.

Untuk diabetes sindrom ovarium polikistik Anda harus makan lebih sedikit karbohidrat glikemik tinggi tapi makan banyak serat, banyak makan antioksidan dan protein.

Untuk lebih lengkapnya, kunjungi dokter atau ahli diet guna mendapatkan informasi lebih akurat. Semoga bermanfaat.

Artikel Diabetes Melitus Lainnya